Ketika Latihan Dipandang sebagai Faktor Utama
Dalam beberapa dekade terakhir, sejumlah pandangan yang berkembang menyatakan bahwa keahlian terutama dibentuk melalui latihan yang intens dan terarah. Dalam konsep deliberate practice, Anders Ericsson menekankan bahwa performa tinggi tidak terjadi begitu saja, melainkan dibangun dari latihan yang terarah dan dilakukan secara konsisten dari waktu ke waktu. Dalam pandangan ini, seseorang menjadi ahli bukan karena “bakat alami”, tetapi karena ia menjalani proses latihan yang panjang dan terstruktur. Misalnya, dalam sebuah eksperimen, seorang mahasiswa yang berlatih intens menghafal angka mampu meningkatkan kapasitas memorinya dari sekitar 7 digit menjadi hampir 80 digit setelah lebih dari 200 jam latihan. Penelitian lain bahkan menunjukkan bahwa keterampilan yang sering dianggap sebagai “bakat langka”, seperti perfect pitch (kemampuan mengenali nada tanpa referensi) dapat dilatih melalui program pembelajaran tertentu pada anak-anak.
Temuan seperti ini membuat banyak orang percaya bahwa bakat sebenarnya hanyalah hasil dari latihan yang cukup lama. Namun, di sinilah muncul pertanyaan penting..
"Jika latihan adalah faktor utama, mengapa orang yang berlatih dalam jumlah yang sama sering kali tetap menunjukkan hasil yang berbeda?"
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa latihan memang berperan besar dalam meningkatkan kemampuan. Namun latihan tidak selalu mampu menjelaskan seluruh perbedaan performa antarindividu. Sebagai contoh, penelitian pada penari balet menemukan bahwa jumlah jam latihan memang berkaitan dengan tingkat keterampilan, tetapi hubungan tersebut tidak dominan. Artinya, latihan memang berpengaruh, namun bukan satu-satunya faktor yang menentukan kemampuan (Hambrick, Ullén, & Mosing., 2016).
Temuan serupa juga terlihat pada penelitian tentang pelatihan perfect pitch. Dalam program pelatihan tersebut, anak-anak menunjukkan perbedaan waktu belajar yang sangat besar. Sebagian peserta mampu menguasai kemampuan tersebut dalam waktu sekitar dua tahun, sementara yang lain membutuhkan waktu hingga delapan tahun untuk mencapai tingkat kemampuan yang sama. Perbedaan yang cukup besar ini menunjukkan bahwa latihan saja mungkin tidak cukup untuk menjelaskan bagaimana seseorang mencapai tingkat keahlian tertentu.
Dalam banyak penelitian tentang keahlian, hubungan antara latihan dan performa sering kali hanya menjelaskan sebagian dari variasi kemampuan individu. Sisanya kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak selalu terlihat secara langsung.
Peran Faktor Biologis dan Genetik
Seiring dengan berkembangnya penelitian dalam bidang genetika perilaku, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa faktor biologis juga berperan dalam perkembangan kemampuan manusia. Sebagai contoh, penelitian pada anak kembar menemukan bahwa kemampuan musik tidak lepas dari pengaruh genetik. Bahkan, dalam studi yang melibatkan lebih dari 10.000 pasangan kembar, sekitar 50% variasi kemampuan musikal antarindividu diperkirakan berasal dari faktor genetik (Hambrick, Ullén, & Mosing., 2016).
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa faktor genetik bisa berpengaruh pada kemampuan atletik. Salah satu gen yang sering dibahas adalah ACTN3, yang berkaitan dengan jenis otot yang mendukung gerakan cepat dan kuat. Variasi gen ini lebih sering ditemukan pada atlet sprint tingkat elit, yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan tinggi.
Temuan-temuan seperti ini menunjukkan bahwa kemampuan manusia tidak berkembang dalam kondisi yang sepenuhnya “netral”. Beberapa orang mungkin memiliki karakteristik biologis tertentu yang memberi mereka keuntungan dalam bidang tertentu.
Namun penting untuk dipahami bahwa faktor genetik bukanlah takdir yang menentukan segalanya. Sebaliknya, gen lebih tepat dipahami sebagai potensi awal yang dapat berkembang atau tidak berkembang tergantung pada lingkungan dan pengalaman belajar.
Jadi, Apakah Bakat Dilahirkan atau Dibentuk?
Jika melihat berbagai temuan ilmiah yang ada, semakin jelas bahwa pertanyaan ini sebenarnya tidak memiliki jawaban yang sederhana.
Latihan memang sangat penting untuk mencapai keahlian. Hampir tidak ada orang yang mencapai performa tingkat tinggi tanpa melalui proses latihan yang panjang dan intensif. Namun pada saat yang sama, penelitian juga menunjukkan bahwa individu tidak selalu memulai dari titik awal yang sama. Faktor biologis, kemampuan kognitif, serta kecenderungan tertentu dapat memengaruhi seberapa cepat seseorang belajar dan seberapa jauh kemampuannya berkembang (Plomin et al., 2014).
Karena itu, semakin banyak peneliti yang melihat keahlian sebagai hasil dari interaksi antara potensi bawaan (genetik) dan lingkungan belajar. Dalam pandangan ini, bakat bukanlah sesuatu yang sepenuhnya dilahirkan atau sepenuhnya dibentuk. Ia lebih tepat dipahami sebagai potensi yang berkembang melalui interaksi kompleks antara faktor biologis, pengalaman belajar, dan lingkungan sosial.
Mengapa Pemahaman Ini Penting?
Memahami bakat secara lebih realistis memiliki implikasi yang penting. Jika bakat dipandang sepenuhnya bawaan, seseorang mungkin merasa bahwa usaha tidak terlalu penting. Sebaliknya, jika bakat dianggap sepenuhnya hasil latihan, kita cenderung mengabaikan perbedaan alami antarindividu. Padahal perkembangan kemampuan manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar salah satu dari dua hal tersebut.
Alih-alih bertanya apakah seseorang berbakat atau tidak, pendekatan yang lebih produktif adalah bertanya:
“Bagaimana potensi yang dimiliki seseorang dapat dikenali dan dikembangkan secara optimal?”
Karena pada akhirnya, keahlian bukan hanya tentang apa yang kita bawa sejak lahir, tetapi juga tentang bagaimana kita belajar, berlatih, dan berkembang sepanjang hidup.
Referensi
Ericsson, K. A., Krampe, R. T., & Tesch-Römer, C. (1993). The Role of Deliberate Practice in the Acquisition of Expert Performance. Psychological Review, 100(3), 363–406. https://doi.org/10.1037/0033-295X.100.3.363
Hambrick, D. Z., Ullén, F., & Mosing, M. (2016, September 20). Is Innate Talent a Myth? Scientific American. https://www.scientificamerican.com/article/is-innate-talent-a-myth/
Papierno, P. B., Ceci, S. J., Makel, M. C., & Williams, W. M. (2005). The Nature and Nurture of Talent: A Bioecological Perspective on the Ontogeny of Exceptional Abilities. Journal for the Education of the Gifted, 28(3-4), 312–332. https://doi.org/10.4219/jeg-2005-343
Plomin, R., Shakeshaft, N. G., McMillan, A., & Trzaskowski, M. (2014). Nature, nurture, and expertise. Intelligence, 45(1), 46–59. https://doi.org/10.1016/j.intell.2013.06.008
Ullén, F., Hambrick, D. Z., & Mosing, M. A. (2016). Rethinking expertise: A multifactorial gene–environment interaction model of expert performance. Psychological Bulletin, 142(4), 427–446. https://doi.org/10.1037/bul0000033
Yang, N., MacArthur, D. G., Gulbin, J. P., Hahn, A. G., Beggs, A. H., Easteal, S., & North, K. (2003). ACTN3 Genotype Is Associated with Human Elite Athletic Performance. The American Journal of Human Genetics, 73(3), 627–631. https://doi.org/10.1086/377590
